Oleh : Oksa Putra YuZa
Saya selalu tersenyum ketika Ustadz Felix Siauw mengajak jamaah facebooker untuk
mengkaji Islam di Hizbut Tahrir. Tersenyum membaca setiap komen yang
sepertinya kecewa berat dengan Ustadz yang mereka idolakan. Kecewa
karena sang Ustadz ternyata anggota HT. Mereka berkomentar,"Felix Siauw
yess, HTI no,". Kenapa tersenyum, karena sungguh mereka sama seperti
saya dulu, berkomentar dalam ketidaktahuan, curiga berlebih-lebihan,
membenci karena cerita orang yang katanya bin katanya.
Felix Siauw yess, HTI no. Ini sangat lucu, karena mereka menyukai
status-status Ustadz Felix tapi membenci tempat dimana Ustad Felix
mengenal dan mendalami Islam. Dari awal Ustadz Felix berdiskusi dengan
syabab hizb, diskusi yang sangat panjang, dari selesai isya hingga adzan
subuh berkumandang. Dengan kesadaran penuh Ustadz Felix mengucap
syahadat, setelah itu belajar Islam dari dasar hingga pemahaman
menyeluruh. "Dua hal yang saya rasakan setelah mengenal Islam, pertama
ketenangan saat pertama kali bersujud. Kedua greget, greget karena Islam
yang sempurna ini tidak diterapkan. Islam itu air putih, tapi umat
lebih memilih air comberan. "Dengan alasan itulah Ustad Felix
bersemaangat mendakwahkan Islam, bahkan langsung mengisi halaqoh di kampusnya, padahal waktu itu belum bisa membaca alqur'an, tidak berapa lama halaqoh itu bubar. hehe.
Felix Siau yess, HTI no. Ini adalah ucapan yang wajar. Sama wajarnya
seperti Rofi' Maryam yang memalsukan nomor hp-nya setiap kali bertemu
muslimah Hizbut Tahrir. Iya, Rofi maryam bercerita tiga kali memalsukan
nomor hp ketika ditanya muslimah hizbut tahrir. Kenapa begitu? Karena
dia tahu hizb dari katanya bin katanya. "Jangan dekat-dekat dengan HTI,
mereka itu keras, mereka itu sesat. hati-hati." Begitulah kata-kata yang
membuat Rofi Maryam ketakutan dan kebencian teramat menyilimutinya
(Bagaimana akhirnya Rofi Maryam bisa "tersesat" juga, tanyakan saja
padanya, atau tunggu buku antologi saya terbit. hehe). Ini juga yang
terjadi pada saya. Ketika saya akan bertemu dengan Ustadz dari HTI
(setelah debat demi debat di facebook), saya bertanya dahulu pada
teman-teman. Dan subhanallah, semuanya menyuruh saya untuk tidak
meneruskan langkah "bodoh" tersebut.
Maka, satu hari sebelum janji bertemu itu, telpon sang Ustadz tidak saya
angkat-angkat. Telpon tak diangkat, sms dikirim. Akhirnya saya matikan
HP. Namun esok paginya, saya merenung, "kenapa saya takut sebelum
bertemu, bukankah ini kesempatan untuk membahas kesesatan HTI. " Dengan
bismillah diiringi cemas yang terlalu saya paksakan langkahkan kaki.
Waktu itu saya sedang skripsi. hehe. Berkenalan dengan sang Ustadz.
Subhanallah. Ternyata sang Ustadz punya bahasa ibu yang sama dengan
saya. Hari pertama bertemu hanya sebatas perkenalan. Perkenalan pertama
begitu menggoda hingga tertarik untuk bertemu lagi. hehe.
Pertemuan pertama membuat saya terenyuh, sang Ustadz langsung menyakan
tiga pertanyaan, darimana kamu? tujuanmu hidup untuk apa? dan akan
kemana setelah hidup ini. Tiga pertanyaan tapi dijawab dengan
membuktikan adanya Allah, kebenaran Rasul, dan kebenaran alqur'an.
Pertanyaan-pertanyaan yang selama ini mengusik, terjawab dengan sangat
memuaskan dan masuk akal.
Singkat cerita, 16 maret 2012 , saya sepakat dengan pemikiran-pemikiran hizb (Hizbut Tahrir ,red),
dan ingin melanjutkan mengkaji kitab. Tahukah tak sesederhana itu,
sebelum diperbolehkan mengkaji kitab, ditanyakan dulu apakah terlibat
riba, apakah masih pacaran, yang muslimah harus memakai hijab sempurna,
dan yang lainnya. Jadi lucu saja, kalau ada yang bilang HT hanya pandai
teori. Subhanallah. Bagaimana mungkin mereka mendakwahi orang
lain sedang mereka sendiri masih bermaksiat. Bagaimana mungkin mereka
berani mengajak terapkan syariat, sedang mereka sendiri melanggar
syariat. Inilah kenapa HT dikatakan keras, karena tak pernah mau
kompromi dengan hal selain Islam. Kami menikah 1 september lalu,
dikatakan aneh karena akadnya terpisah, walimah nya juga terpisah antara
laki-laki dan wanita, namun itulah resiko, ketika paham bahwa hidup ini
hanya untuk Allah, bukan menuruti pandangan manusia yang seringkali
kebenaran itu diartikan jika banyak dilakukan oleh manusia. Padahal
bukan membenarkan kebiasaan tapi membiasakan yang benar.
Jadi, jika ada yang mengatakan Felix Siauw yess, HTI no. Janganlah
memaki dan mencela mereka. Sebab mereka sama seperti kita yang dahulu
sangat membenci hizb (Hizbut Tahrir ,red) karena ketidaktahuan
yang berasal dari katanya bin katanya. Di sini saya tidak membela HT.
Tidak ada kewajiban untuk membela. HT hanya tempat belajar dan
berjamaah. Hanya ingin sahabat semua mengambil ibrah-nya.
Silahkan belajar dan berjamaah di harokah yang memperjuangkan Islam.
Karena ini kewajiban selama Islam masih terpinggirkan. Kewajiban muslim
menerapkan alqur'an dan hadits secara keseluruhan.
Bagi yang ingin diskusi dan ingin mengkaji Islam di HTI, silah daftar di sini http://hizbut-tahrir.or.id/gabung/
Sumber : https://www.facebook.com/notes/oksa-putra-yuza/felix-siauw-yess-hti-no/10152217456645896
[www.al-khilafah.org]

assalamu'alaikum.. maaf mau nanya gimana cara gabung ke HTI ya mas? Soalnya saya udah pernah ngisi dua kali form HTI yg buat daftar anggota HT tp gak dapet pemberitahuan selanjutnya. Mohon penjelasannya terimakasih
BalasHapus