Habib Muhammad Rizieq Syihab, MA
Ketua Umum DPP FPI
Dibanding dua judul tulisan saya sebelumnya, yaitu "Liberal Musuh Besar
Islam" dan "Liberal Lebih Iblis daripada Iblis", maka judul tulisan
saya tentang Liberal kali ini memang agak vulgar, karena memang Liberal
patut ditelanjangi secara vulgar. Jujur saja, saya memang sedang
membangun serangan habis-habisan terhadap
pemikiran-pemikiran sesat Kaum Liberal. Kaum Liberal sudah tidak bisa
lagi diajak dialog, apalagi dinasihati, karena Ulama ditantang, Agama
ditentang, bahkan Kitab Suci diserang. Dan kaum Liberal ini sudah
terlalu sering membuat istilah "nyeleneh" terhadap Gerakan Islam,
seperti preman berjubah, puritan, radikal, ekstrimis, teroris, dan
sebagainya. Kini saatnya mereka kita beri label-label yang dengannya
umat Islam jadi tahu siapa dan bagaimana mereka.
LIBERAL DAN MU'TAZILAH
Kaum Liberal sering mengklaim bahwa mereka pengagum sekaligus pengikut
Mu'tazilah. Kaum Liberal menganggap bahwa mereka dengan Mu'tazilah
adalah kelompok yang sangat moderat, karena selalu mengedepankan nalar
dan logika yang sehat. Pendapat Mu'tazilah bahwa Al-Qur'an adalah
"makhluq" kerap dijadikan rujukan oleh Kaum Liberal untuk menjustifikasi
pendapat mereka bahwa Al-Qur'an hanya sebuah teks yang merupakan produk
budaya, bahasa dan sejarah.
Padahal, konsep "memakhluqkan"
Al-Qur'an milik Mu'tazilah tidak sama dengan konsep "memakhluqkan"
Al-Qur'an milik Liberal, bahkan berbanding terbalik. Tatkala Mu'tazilah
memakhluqkan Al-Qur'an sebagai "ciptaan", mereka menisbahkannya kepada
Allah SWT, sehingga pengertiannya bahwa Al-Qur'an adalah makhluq ciptaan
Allah SWT. Dasar pemikiran Mu'tazilah sangat sederhana dengan logika
biasa yaitu bahwa selain Tuhan adalah makhluq, sehingga karena Al-Qur'an
bukan Tuhan maka berarti ia makhluq. Dengan demikian, menurut
Mu'tazilah bahwa Al-Qur'an tetap datang dari Allah SWT, bukan datang
dari buatan manusia.
Sedang Liberal tatkala memakhluqkan
Al-Qur'an sebagai "ciptaan", mereka menisbahkannya kepada Muhammad,
sehingga pengertiannya bahwa Al-Qur'an adalah makhluq ciptaan Muhammad.
Dasar pemikiran Liberal tidak sederhana, tapi "ngejelimet"
berbelat-belit, putar balik hujjah, bukan dengan logika tapi khayalan,
kocok sana kocok sini, sehingga lebih tepat disebut sebagai "Onani
Pemikiran". Puncratan onani pemikirannya pun menjijikkan yaitu bahwa
"Al-Qur'an buatan manusia." Astaghfirullaah.
Jadi, jelas sekali
bahwa Liberal bukan Mu'tazilah, secuil pun tidak sama dengan
Mu'tazilah, bahkan terlalu "lebay" menyamakan keduanya. Mu'tazilah
sepanjang zaman tetap mengagungkan Al-Qur'an sebagai "Wahyu Allah SWT",
sedang Liberal secara terang-terangan menyerang dan menistakan
Al-Qur'an.
Bagi Ahlus Sunnah wal Jama'ah bahwa "Mush-haf"
Al-Qur'an yang terdiri dari kertas dan tinta memang makhluq, namun
Al-Qur'an sebagai wahyu Allah SWT tidak boleh disebut makhluq, karena
itu merupakan Kalam dan Firman-Nya yang suci lagi agung. Bagi Ahlus
Sunnah pendapat Mu'tazilah tentang "kemakhluqan" Al-Qur'an adalah bid'ah
pemikiran, namun tidak ada Ahlus Sunnah yang mengkafirkan Mu'tazilah
karena konsep tersebut. Sedang pendapat Liberal tentang "kemakhluqan"
Al-Qur'an adalah "onani pemikiran" yang sesat dan menyesatkan, bahkan
kafir dan keluar dari Islam.
AL-QUR'AN ADALAH TEKS ?
Menurut Kaum Liberal bahwa Al-Qur'an adalah dokumen tertulis (manuskrip)
yang diwariskan Muhammad kepada umatnya, sehingga Al-Qur'an hanya
merupakan "Teks" yang bisa dan harus diteliti otentisitasnya melalui
penerapan metode-metode Filologi, seperti Historical Criticism, Textual
Criticism, Literary Criticism, Form Criticism dan Redaction Criticism.
Metodologi Filologi bagi Kaum Liberal adalah metodologi penelitian
modern yang telah sukses diterapkan dalam studi kritis Bibel dan telah
diakui banyak kalangan peneliti dan cendikiawan dari kalangan Yahudi,
Nashrani mau pun Islam.
Masih menurut Kaum Liberal bahwa umat
Islam sepatutnya mengikuti langkah Kaum Orientalis yang telah secara
berani mengkritisi Bibel sebagai kitab suci mereka sendiri melalui
Metodologi Hermeneutika. Kaum Liberal pun menyerukan umat Islam untuk
melepaskan sikap fanatik ortodoks yang selalu menganggap Al-Qur'an
sebagai kitab suci yang sangat sakral, sehingga tidak berani untuk
melakukan studi kritis terhadap kitab suci. Inilah salah satu bukti
"onani pemikiran" yang dilakukan kaum Liberal.
Bagi umat Islam,
Al-Qur'an pada mulanya bukanlah "Teks" atau "Tulisan" tetapi merupakan
"Bacaan" yang dihafal dan diwariskan dari generasi ke generasi secara
mutawatir. Proses pewahyuan, penyampaian, pengajaran dan periwayatan
Al-Qur'an pada mulanya melalui lisan dan hafalan, bukan tulisan. Sedang
penulisan Al-Qur'an hanya sebagai penunjang, itu pun pada mulanya
"Tulisan" Al-Qur'an hanya bersandar kepada "Hafalan Bacaan", bukan
sebaliknya.
Otentisitas Al-Qur'an sebagai wahyu Allah SWT
tidak diragukan sedikit pun. Walau pun penghimpunan penulisan Al-Qur'an
secara utuh baru dilakukan di zaman Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA,
lalu disempurnakan zaman Sayyidina Utsman ibnu 'Affan RA, kemudian
makin disempurnakan di zaman-zaman berikutnya hinga di era penerbitan
dan percetakan laser sekarang ini, tapi tenggang waktu antara awal
penurunan wahyu kepada Rasulullah SAW hingga penghimpunan penulisan
wahyu tersebut tidak ada sedikit pun jeda kekosongan penyampaian,
pengajaran dan periwayatannya dari generasi ke generasi secara
mutawatir, sehingga otentisitas Al-Qur'an sebagai wahyu tetap terjaga
dan terpelihara. Alhamdulillaah.
Berbeda dengan Bibel misalnya,
yang penghimpunan penulisannya dilaksanakan setelah ratusan tahun dari
zaman Nabi 'Isa AS, dan sejak awal pewahyuan Injil kepada Nabi 'Isa AS
hingga zaman penghimpunan penulisan telah terjadi jeda kekosongan
penyampaian, pengajaran dan periwayatannya dari generasi ke generasi.
Sehingga penghimpunan penulisan Bibel hanya bersandar kepada "manuskrip"
yang tertulis dalam bentuk papirus, skroll, dan sebagainya. Itulah
sebabnya, penelitian manuskrip Bibel menjadi keniscayaan untuk
membuktikan keasliannya. Itu pula sebabnya, kenapa para Orientalis tidak
ada pilihan lain kecuali harus mengkritisi Bibel melalui Metodologi
Hermeneutika untuk meneliti keasliannya.
Jadi, sumber penulisan
Bibel adalah "Teks" sehingga bisa diterapkan metode-metode filologi
untuk membuktikan keautentikannya, sedang sumber penulisan Al-Qur'an
adalah "Bacaan" yang tidak mungkin diterapkan metode-metode filologi
terhadapnya, bahkan mustahil karena keautentikan Al-Qur'an tak
terbantahkan. Kesimpulannya, Hermeneutika dengan segala metode
filologinya sudah tepat diterapkan dalam penelitian otentisitas Bibel
yang akhirnya sukses membongkar kepalsuannya. Sedang jika Hermeneutika
diterapkan terhadap Al-Qur'an maka salah alamat, sebagaimana pernah
dinyatakan oleh Prof. Josef van Ess, seorang Teolog di Universitas
Tuebingen - Jerman : "Bahwa Hermeneutika yang berasal dari Jerman tidak
ditujukan untuk kajian keislaman. Pada mulanya, ia meruapakan produk
Teolog Protestan yang dipakai untuk kajian Bibel oleh Friedrich
Schleiermacher, dan belakangan oleh Martin Heidedger dan Hans-Georg
Gadamer dalam kajian kesusasteraan Jerman mau pun Klasik."
AL-QUR'AN PRODUK BUDAYA ?
Kaum Liberal menyatakan bahwasanya sejak awal Al-Qur'an diturunkan
kepada Muhammad hingga wafatnya, selama lebih kurang 23 tahun, Al-Qur'an
telah berinteraksi dengan merespon dan mengakomodir realitas dan budaya
masyarakat Arab, sehingga Al-Qur' an tidak bisa melepaskan diri dari
kungkungan realitas dan budaya yang ada di masa itu. Karenanya,
Al-Qur'an adalah "Teks" yang dilahirkan oleh realita dan diproduksi oleh
budaya. Inilah bentuk lain "onani pemikiran" hasil khayalan kaum
Liberal.
Andaikata Al-Qur'an produk budaya karena terbentuk
dalam realitas dan budaya, maka semestinya Al-Qur'an menghalalkan apa
yang dihalalkan masyarakat Arab Jahiliyyah tempat dimana Al-Qur'an
diturunkan, seperti : kemusyrikan, perjudian, khamar, riba dan wa'dul
Banaat (mengubur hidup-hidup anak perempuan). Namun kenyataannya,
Al-Qur'an menentang dan mengharamkan itu semua. Justru masyarakat Arab
Jahiliyyah memandang Al-Qur'an saat diturunkan sebagai sesuatu yang aneh
dan asing, karena bertentangan dengan realita dan budaya mereka. Bahkan
mereka menuduh Rasulullah SAW sebagai orang gila yang ingin melawan
realita dan budaya yang sudah berurat berakar di tengah masyarakat Arab
selama berabad-abad.
Jadi, Al-Qur'an bukan produk budaya
Jahiliyyah atau produk budaya apa pun, karena Al-Qur'an bukan
kesinambungan dari budaya mana pun ketika itu. Justru Al-Qur'an
memproduk budaya baru yang mengharamkan segala bentuk kemusyrikan,
kesesatan, kezaliman, kema'siatan dan kemunkaran. Al-Qur'an melahirkan
budaya baru yang berakhlaqul karimah, terhormat dan bermartabat.
Kesimpulannya, bukan Budaya yang jadi sumber Al-Qur'an, tapi sebaliknya
justru Al-Qur'an yang jadi sumber budaya agung dan luhur. Inilah
faktanya, bukan khayalan yang mendorong "onani pemikiran" sebagaimana
yang dilakukan kaum Liberal.
AL-QUR'AN PRODUK BAHASA ?
Kaum Liberal berkhayal bahwa Tuhan punya bahasa tersendiri yang tidak
dipahami manusia, sedang bahasa Arab adalah bahasa manusia bukan bahasa
Tuhan. Lucunya, kaum Liberal sendiri tidak pernah tahu bahasa apa dan
bagaimana yang mereka maksud dengan bahasa Tuhan. Lalu dari onani
khayalan tersebut, kaum Liberal menyatakan bahwa Allah menurunkan
Al-Qur'an dengan bahasa Tuhan yang tidak dipahami manusia, lalu Muhammad
menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab agar dipahami oleh manusia.
Karenanya, kaum Liberal meyakini adanya intervensi bahasa manusia dalam
pembentukan Al-Qur'an, apalagi penulisan Al-Qur'an dalam bentuk "Rasm
Utsmani" memungkinkan dibaca dengan beberapa bacaan (qiraat), sehingga
Al-Qur'an menjadi "Teks Bahasa" yang tunduk kepada kaidah dan
karakteristik bahasa tersebut, baik lisan mau pun tulisan.
Dalam aqidah umat Islam bahwasanya Allah SWT Maha Berkehendak, dan
dengan bahasa mau pun tanpa bahasa, kehendak Allah SWT pasti berlaku.
Allah SWT tidak membutuhkan bahasa, karena bahasa adalah makhluq
ciptaan-Nya dan Allah SWT tidak bergantung kepada makhluq ciptaan-Nya.
Allah SWT telah berkehendak menurunkan Al-Qur'an dalam bahasa Arab untuk
menyampaikan aturan-Nya kepada umat manusia agar dipatuhi dan ditaati.
Dan Al-Qur'an sejak awal diturunkan kepada Rasulullah SAW sudah
berbahasa Arab sesuai dengan kehendak Allah SWT yang berada di atas
segala kehendak, sehingga tidak ada intervensi bahasa manusia mana pun
terhadap Al-Qur'an sebagaimana dikhayalkan kaum Liberal.
Jadi,
Allah SWT lah yang telah menurunkan Al-Qur'an dalam bahasa Arab, bukan
Rasulullah SAW yang menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab, sebagaimana
termaktub dalam QS.12.Yusuf : 2, QS.20.Thoha : 113, QS.39.Az-Zumar : 28,
QS.41.Fushshilat : 3, QS.42.Asy-Syura : 7 dan QS.43.Az-Zukhruf : 3.
Semua bahasa adalah ciptaan Allah SWT, dan Dia SWT berhak untuk
menentukan bahasa mana yang dipilihnya sebagai bahasa pengantar
firman-Nya agar dimengerti manusia. Allah SWT pernah memilih bahasa
Ibrani untuk firman-Nya dalam Taurat, dan memilih bahasa Suryani untuk
firman-Nya dalam Injil, serta memilih bahasa Arab untuk firman-Nya dalam
Al-Qur'an.
Aneka qiraat dalam pembacaan Al-Qur'an bukan
disebabkan "Rasm Utsmani" yang tanpa titik dan harakat sehingga
memungkinkan dibaca dengan beberapa bacaan, melainkan datang dari aneka
bacaan yang disampaikan Nabi SAW kepada umatnya dari Allah SWT. Justru
"Rasm Utsmani" itu dibuat mengikuti Bacaan Hafalan Al-Qur'an yang
diajarkan Nabi SAW, tidak sebaliknya. Karenanya, walau pun suatu bacaan
sudah sesuai "Rasm Utsmani" tapi jika tidak ada riwayat qiraatnya dari
Nabi SAW secara mutawatir, maka tertolak dan tidak termasuk Al-Qur'an.
Misalnya, Surat Al-Fatihah ayat keempat dibaca dengan dua qiraat yaitu
"Maliki Yaumid Diin" dengan dipendekkan "miim"-nya dan "Maaliki Yaumid
Diin" dengan dipanjangkan "miim"-nya. Kedua qiraat termasuk Al-Qur'an
karena datang melalui periwayatan mutawatir dari Rasulullah SAW, bukan
karena sesuai dengan "Rasm Utsmani". Jika ayat tersebut dibaca "Malaka
Yaumad Diin" dengan fi'il dan maf'uul yang sekali pun sesuai "Rasm
Utsmani" maka tetap tertolak, karena tidak ada riwayat mutawatir dari
Nabi SAW tentang qiraat seperti itu.
Selain itu, Al-Qur'an
bukan "Teks Bahasa" yang tunduk kepada kaidah dan karakteristik bahasa
Arab yang berlaku di kalangan masyarakat Jahiliyyah saat diturunkan,
buktinya :
Pertama, Al-Qur'an telah merubah kaidah dan
karakteristik sejumlah kata dalam bahasa Arab, seperti kata "Karomah"
yaitu "Kemuliaan" yang dalam masyarakat Jahiliyyah maknanya selalu
dikaitkan dengan banyak isteri, anak dan harta serta kedudukan tinggi,
namun Al-Qur'an merubahnya secara mendasar dan hanya mengaitkan maknanya
dengan taqwa kepada Allah SWT sesuai firman-Nya dalam QS.49.Al-Hujuraat
ayat 13 : "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi
Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu sekalian." Jika
Al-Qur'an merupakan "Teks Bahasa" yang tunduk kepada kaidah dan
karakteristik bahasa Arab di zaman diturunkan, maka mestinya Al-Qur'an
tidak membuat makna baru yang saat itu tidak diakui oleh masyarakat
Jahiliyyah.
Kedua, dalam Al-Qur'an terdapat "Huruf
Muqoththo'ah" seperti Alif Laam Miim di awal Surat Al-Baqarah, yang
semakin memastikan bahwasanya Al-Qur'an bukan "Teks Bahasa" yang tunduk
kepada kaidah dan karakteristik bahasa Arab, karena tak satu pun bangsa
Arab sejak dulu hingga kini yang tahu dengan pasti makna huruf tersebut.
Jika Al-Qur'an merupakan "Teks Bahasa" yang tunduk kepada kaidah dan
karakteristik bahasa Arab di zaman diturunkan, maka mestinya Al-Qur'an
tidak memuat "Huruf Muqoththo'ah" yang tidak dikenal oleh masyarakat
Jahiliyyah.
Ketiga, dalam Al-Qur'an terdapat sejumlah kosa kata
"asing" bagi masyarakat Arab ketika diturunkan, karena jarang digunakan
atau sudah punah lalu menjadi bahasa bangsa lain atau memang murni
kosa kata asing, seperti Abaariiq (Persia), Asfaar (Suryani) dan Araa-ik
(Habasyi), sehingga Al-Qur'an menggunakannya kembali untuk menegaskan
bahwa kosa kata tersebut sudah "diarabkan" atau memang asal-usulnya dari
bahasa Arab. Jika Al-Qur'an merupakan "Teks Bahasa" yang tunduk kepada
kaidah dan karakteristik bahasa Arab di zaman diturunkan, maka mestinya
Al-Qur'an tidak memuat kosa kata "asing" yang tidak dipahami oleh
masyarakat Jahiliyyah.
Nah, nyatanya dari dulu hingga kini
Al-Qur'an tidak pernah tunduk kepada kaidah dan karakteristik bahasa
Arab yang berlaku di masyarakat Jahiliyyah, sehingga Al-Qur'an bukan
produk bahasa sebagaimana dikhayalkan kaum Liberal. Bahkan Al-Qur'an
disepakati oleh Ulama Salaf mau pun Khalaf sebagai sumber rujukan bagi
bahasa Arab yang paling fasih dan paling benar kaidahnya serta paling
sempurna karakteristiknya.
AL-QUR'AN PRODUK SEJARAH ?
Kaum Liberal menilai bahwasanya Al-Qur'an yang diturunkan pada abad ke-7
Miladi, terikat kuat dengan realitas, budaya dan bahasa yang merupakan
bagian daripada "Fenomena Historis" masa itu, sehingga Al-Qur'an hanya
merupakan produk sejarah yang merekam situasi adat budaya masyarakat
Arab di abad tersebut. Karenanya, ke depan Al-Qur'an perlu mengadaptasi
dengan perkembangan sejarah selanjutnya. Ini pun bentuk lain dari "onani
pemikiran" gaya Liberal.
Fakta membuktikan bahwasanya
Al-Qur'an tidak terikat dan tidak dipengaruhi "Fenomena Historis"
daripada realitas, budaya dan bahasa masyarakat Arab abad ke-7 Miladi.
Buktinya, Al-Qur'an bukan hanya merekam sejarah di masa turunnya, tapi
juga sejarah masa lalu di luar wilayah turunnya, bahkan masa akan datang
yang jauh dari jangkauan realitas, budaya dan bahasa masyarakat Arab
Jahiliyyah. Ratusan ayat Al-Qur'an mengisyaratkan secara menakjubkan
berbagai informasi pengetahuan ilmiah yang faktanya baru terungkap di
abad modern, seperti yang terkait Astronomi, Geologi, Biologi dan
Embriologi. Jadi, Al-Qur'an bukan produk sejarah, bahkan bersifat
Transhistoris yaitu melampaui historisitasnya sendiri.
Jadi,
Al-Qur'an sebagai Mu'jizat terbesar akan selalu cocok dan sesuai untuk
semua tempat dan zaman hingga Hari Akhir. Alhamdulillaah.
OTENTISITAS AL-QUR'AN
Onani pemikiran kaum Liberal yang menyatakan bahwasanya Al-Qur'an
adalah teks yang merupakan produk budaya, bahasa dan sejarah, hanya
merupakan bagian dari upaya jahat kaum Orientalis mau pun Oksidentalis
untuk menanamkan keraguan terhadap kebenaran, kesucian dan keagungan
Al-Qur'an. Namun otentisitas yaitu keautentikan dan keaslian Al-Qur'an
sebagai wahyu Allah SWT terlalu kokoh untuk digoyahkan dan terlalu
sempurna untuk direndahkan, sehingga kaum Liberal tampak mulai kelelahan
menyerang Al-Qur'an, bahkan banyak yang mulai gila karena tak dapat
cara.
Allah SWT telah berjanji untuk senantiasa menjaga
Al-Qur'an sesuai firman-Nya dalam QS.15.Al-Hijr : 9. Salah satu cara
Allah SWT menjaga Al-Qur'an adalah dengan mengaruniakan para hamba-Nya
kemampuan menghafal Al-Qur'an. Di zaman sekarang ada jutaan umat Islam
di dunia yang hafal Al-Qur'an, di Indonesia saja tidak kurang dari
seratus ribu santri berbagai pondok pesantren Tahfizhul Qur'an yang
hafal Al-Qur'an. Karenanya, jangankan memalsukan Al-Qur'an, bahkan salah
cetak saja suatu Mush-haf Al-Qur'an dengan mudah dan cepat bisa
terungkap. Subhaanallaah.
Kepada generasi muda Islam yang ingin
lebih luas dan matang mengetahui kebobrokan dan kejahatan pemikiran
Liberal, penulis menyarankan untuk mau membaca lebih banyak buku-buku
karya para cendikiawan muda kita yang secara cerdas, tegas dan lugas
mengkritisi pemikiran-pemikiran sesat kaum Liberal, seperti buku-buku :
Metodologi Bibel dalam Studi Al-Qur'an (DR. Adnin Armas), Tren
Pluralisme Agama (DR. Anis Malik Thoha), Orientalis dan Diabolisme
Pemikiran (DR. Syamsuddin Arif), Virus Liberalisme di Perguruan Tinggi
Islam (DR. Adian Husaini) dan Kritik Terhadap Studi Al-Qur'an Kaum
Liberal (Fahmi Salim MA), yang semuanya diterbitkan oleh Gema Insani
Pers - Jakarta. Dan sangat bagus serta manfaat jika generasi muda Islam
secara aktif mengikuti workshop mau pun dialog-dialog yang digelar
kawan-kawan dari INSISTS (Institute for The Study of Islamic Thought and
Civilization) yang dinakhodai oleh DR. Hamid Fahmi Zarkasyi.
Mereka adalah para cendikiawan muda muslim Indonesia yang harus kita
dukung dan sokong perjuangannya dalam membentengi umat Islam dari segala
pengaruh pemikiran Liberal yang sesat dan menyesatkan.
Selamat berjuang ..... Ayo, Ganyang Liberal ! Allahu Akbar !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar