Dari Abu Hamzah Ats Tsumaly, bahwa Ali bin Al Husain membawa roti di atas
punggungnya pada malam hari lalu mencari orang-orang miskin di
kegelapan. malam. Dia mengingat sebuah hadist Sesungguhnya shadaqah yang
diberikan tersembunyi dapat memadamkan kemurkaan Allah. Dari Muhammad
bin Ishaq, dia berkata, Penduduk Madinah hidup dengan makanan itu,
sementara mereka tidak tahu siapa yang
telah memberi makanan itu kepada mereka. Setelah Ali bin Husain
meninggal dunia, maka mereka tidak lagi mendapatkan makanan pada malam
hari
Dari Amr bin Tsabit, dia berkata, Setelah Ali bin Al
Husain meninggal dunia, orang-orang melihat bekas punggungnya, yaitu
bekas kantong makanan yang biasa dia panggul untuk diberikan kepada para
wanita janda
Syaibah bin Nuamah berkata, Setelah Ali bin Al Husain meninggal dunia,
orang-orang mendapatkan SERATUS SEDEKAH dari keluarga yang dia santuni.
Membaca kisah-kisah mereka akan membuat kita terkagum-kagum
dengan Mu'minin generasi shaleh di masa awal Islam yang beramal dengan niat ikhlash menjauhi dari riya.
Mereka generasi yang paling faham agama, mereka jelas faham riya kadang
sangat halus membersit, hingga perjuangan mereka untuk membaguskan
amalan itu yang istimewa. Kesungguhan beramal shaleh harapannya hanya
Allah.
Siapa yang besar dari Allah ?, siapa yang lebih tahu
diri kita melainkan Allah SWT, siapa yang menanggung udara yang kita
hirup selama ini, siapa yang memberi kita kebahagiaan dan kepahitan
semuanya melalui kehendak-Nya, mudharat dan maslahat ada ditangan-Nya
berlaku kepada siapapun dan kapanpun.
Sayang kita yang begitu
pecundang mengharapkan simpatik seorang bos, seorang hartawan, seorang
berkedudukan tinggi hingga kita hina secara hakiki
Ingatlah
pasukan Muslim utusan Rasulullah SAW yang hanya beberapa orang memasuki
tenda kebesaran kaisar Persia, dimana semua pasukan persia dan
wakil-wakilnya dalam keadaan membungkukkan diri kepada Raja Persia,
sedangkan pasukan muslim tidak melainkan tetap tegak berjalan, karena
alasan mereka dahsyat bahwa, Islam diturunkan untuk menghamba kepada
Allah dan mengeluarkan kepada penghambaan kepada manusia baik itu
hukumnya, statusnya dsb. Mereka menggetarkan harga dirinya yang tinggi
sebagai hamba Allah SWT.
Mereka taat kepada Allah, sering
menyebut nama-Nya, terbaik dalam shalat, terbaik dalam sedekah, Raja
Persia mereka hadapi dengan Iman menyerukan Agama Allah, tidak kenal
takut nyawa mereka melayang apalagi mereka disarang singa, apalagi hanya
takut miskin, takut gak lulus, takut gak dapat jodoh, takut dipecat,
takut sakit sampai shubuhnya dibiarkan kesiangan ? Allah gak pernah
dibesarin, baik agama-Nya, perintah-Nya dan upaya menjauhi larangan-Nya.
Apalah kita ini dibanding mereka, kemanjaan yang berlarut-larut,
terlalu sering bergelut informasi non keimanan dan keislaman, keseringan
bergaul sama mereka yang jauh dari agama, membuat jiwa tumpul, sehingga
pesimistis, padahal disana ada Allah yang selalu terbuka bagi mereka
yang meninggikan dan membesarkan-Nya sesuai Para Nabi dan Rasul-Nya.
Cintanya tidak pernah bertepuk sebelah tangan bagi hamba-Nya yang yakin dan berusaha yang terbaik mentaati-Nya.
Allah Subhanahu wa taala berfirman yang artinya: Dan barangsiapa yang
menentang Ar-Rasul setelah jelas baginya petunjuk dan mengikuti selain
jalan orang-orang mukminin niscaya dia Kami palingkan sebagaimana dia
telah berpaling dan akan Kami masukkan dia ke neraka jahannam sebagai
sejelek-jelek tempat kembali (An-Nisa: 115)
Al-Ashbahani
menerangkan Tafsirnya : Barangsiapa menyelisihi para shahabat Rasulullah
dalam suatu perkara agama maka sungguh dia akan sesat. (Kitab Al-Hujjah
fi Bayanil Mahajjah, 2/440)
Bila sesat, salah jalan, jadi apa
yang kita harapkan ? Doa dan perjuangan beribadah merupakan satu paket,
kejarlah Allah, tekun mempelajari agama-Nya, karena terdorong rasa
Syukur kita, bayangkan bahwa kita ini gak minta mata, tetapi Allah kasih
mata, kita dari lahir sudah ada sepasang mata, kita gak minta hidung,
Allah kasih hidung, eh ada udaranya lagi, ngepas bener...dst.
Ya Allah maha memberi, maka kuasa atas semuanya, kita saja yang tidak
introspeksi diri, selalu berat diri dalam beribadah, tidak fokus dan
prioritas menggapai redho Allah SWT. Bisa saja selama ini kita beragama
kesannya ngasal, jadinya ya asal aja kita menjalani kehidupan gak ada
perbaikan dan peningkatan dalam amal shaleh. [YMN]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar